Ini hanya kisah tak berarti, sekedar mengejar jadwal kereta api untuk pulang sore ini. Stasiun besar KA medan menjadi bahan pikiran, ketika jam sudah menunjukkan 17:15 dan saya masih di kampus.
Entah apa yang membuatku sampai harus terbirit-birit mengejar angkot demi jadwal kereta sore 17:55. Biasanya jam 17:00 saya sudah berangkat dan itu waktu yang paling ideal mengenang macet yang membuat keringatku menganak sungai.
Tapi ini 15 menit sudah berlalu, Entah kenapa aku masih yakin dengan Cara Tuhan. Entah ke berapa kalinya Tuhan menolong dalam menit-menit terakhir.
Ku istirahat kan kuda besiku si tempat biasa, dan ini adalah sore yang luar biasa untuknya. Terseok-seok terus melangkah ke jalan besar yang berjarak seratusan meter dari gedung yang ku tinggali.
Ya, dalam pikiranku hanya satu "Cara Tuhan". Aku masih yakin bagaimana Tuhan yang memuluskan jalan-jalan macet sehingga angkot merah ini bisa bisa melaju. Sekali-sekali ku ajak sang sopir bercanda, sekedar gumam agar dia menginjak gas lebih dalam.
Ah lampu merah, sudah tiga, lima, tujuh terlewati, belum lagi sepeda motor berseliweran. Tiiit..tuut..tiit..tuut... ah, perlintasan kereta turun, sang supir menginjak rem dengan kuat.
Ku lihat jam 17:50, ah Tuhan.. apakah engkau masih punya cara lain yang tidak ku ketahui pikirku.
17:51 akhirnya stasiun ku masuki, cetak tiket dari pesanan yang apes kemaren dan petugaspun memeriksa, yah 17:52. 3 menit menjelang berangkat.
Itu dia keretanya, Alhamdulillah... akhirnya...
Medan, Februari dingin 2016.
Suendri
Entah apa yang membuatku sampai harus terbirit-birit mengejar angkot demi jadwal kereta sore 17:55. Biasanya jam 17:00 saya sudah berangkat dan itu waktu yang paling ideal mengenang macet yang membuat keringatku menganak sungai.
Tapi ini 15 menit sudah berlalu, Entah kenapa aku masih yakin dengan Cara Tuhan. Entah ke berapa kalinya Tuhan menolong dalam menit-menit terakhir.
Ku istirahat kan kuda besiku si tempat biasa, dan ini adalah sore yang luar biasa untuknya. Terseok-seok terus melangkah ke jalan besar yang berjarak seratusan meter dari gedung yang ku tinggali.
Ya, dalam pikiranku hanya satu "Cara Tuhan". Aku masih yakin bagaimana Tuhan yang memuluskan jalan-jalan macet sehingga angkot merah ini bisa bisa melaju. Sekali-sekali ku ajak sang sopir bercanda, sekedar gumam agar dia menginjak gas lebih dalam.
Ah lampu merah, sudah tiga, lima, tujuh terlewati, belum lagi sepeda motor berseliweran. Tiiit..tuut..tiit..tuut... ah, perlintasan kereta turun, sang supir menginjak rem dengan kuat.
Ku lihat jam 17:50, ah Tuhan.. apakah engkau masih punya cara lain yang tidak ku ketahui pikirku.
17:51 akhirnya stasiun ku masuki, cetak tiket dari pesanan yang apes kemaren dan petugaspun memeriksa, yah 17:52. 3 menit menjelang berangkat.
Itu dia keretanya, Alhamdulillah... akhirnya...
Medan, Februari dingin 2016.
Suendri
Komentar
Posting Komentar