Sore ini saya harus mengejar Kereta Api, seperti biasa dari kost saya selalu berangkat jam 17.00 untuk mengejar kereta jam 17.55. Dalam pikiran saya, ini sama dengan jumat-jumat sebelumnya, pulang ke kisaran. Entah apa yang membuat jalan ini begitu macet, kemungkinan besar karena senin tanggal merah dan pegawai libur, Ampun! Angkot ini rasanya tak bergerak, padahal sopirnya termasuk pereman ugal-ugalan. Naas itupun terjadi, ketika sampai di stasiun, sayapun turun dari angkot dan keretapun berangkat. Saya masih bisa melihat buntut keretanya, tapi apa daya, pak satpam menghalangi. Aku ketinggalan kereta. Bersama saya, yang sama-sama ketinggalan kereta ada 3 mahasiswi. Mereka meraung, tapi apa boleh buat. Akhirnya kami sepakat untuk pulang sama-sama mencari alternatif lain, naik bus.Taksipun jadi pilihan, walau mahal tapi bisa dibagi 4, mencari bus ke jalan Sisingamangaraja, kami tidak tahu dimana letaknya, hanya sang sopir dan Tuhan yang tahu. Stasiun rajawali tujuan Tanjungbalai via Kis...
Pada waktu libur kuliah tahun 2010, dari kampung sebenar saya ingin naik bus ALS saja, tapi emak menyarankan agar mencoba jalur lain yang lebih dekat dan naik Travel mini bus APV, Ongkos juga tidak jauh beda dengan naik bus. Separuh perjalan mobil rusak, kami terpaksa menuggu beberapa jam, berhenti di sebuah bengkel tepatnya di sebuah wilayah namanya Balige. Ini adalah perjalanan terberat yang pernah saya alami, 30 jam perjalanan dari Pasaman-Kisaran yang semestinya bisa ditempuh sekitar 17-18 jam. - Berpola Sekitar 3 bulan berikutnya, tanpa kami sengaja, kami diutus untuk menghadiri Muswil Aptikom di kampus IT Del, Karena bertepatan hari jumat, kami diberi kesempatan untuk jumatan, mesjidnya lumayan jauh, pihak kampus memberikan tumpangan menggunakan Bus kampus. Tahukah kamu, Kami sholat tidak jauh dari bengkel tempat kami berhenti dari cerita saya sebelumnya? Saya tidak pernah lagi melewati jalan ini hingga tulisan ini saya buat.